Feeds:
Posts
Comments

Mommy’s Chef

#gakpenting

Sebenernya saya seneng memasak, terutama sejak jadi Mahasiswa. Kalo diinget-inget sih waktu kecil saya pernah buat pisang molen sendiri cuman gegara liat Bu Tata tetangga saya buat pisang molen. Pas saya tinggal di Jerman, hobi masak saya muncul karena terpaksa, karena harus ngirit dan karena rindu nasi. 

Selepas kembali ke Indonesia, hobi memasak ini berangsur menipis karena kehadiran si Mbak dan mama saya dan segala kerepotan saya mengurus jagoan kecil sehingga waktu saya sangat terbatas. Akhir-akhir ini saya jadi senang lagi memasak, terutama bekal anak-anak. Entah kenapa, energi saya rasanya berlebih di pagi hari, menyiapkan bekal anak saya itu beneran jd mood booster saya.

Seru banget, membuat kejutan di setiap pagi, karena saya sengaja merahasiakannya sampai mereka bersiap ke sekolah. Dan rasanya hati saya berbunga jumpalitan setiap mendengar teriakan karena terkejut dan telpon di siang hari yang selalu saya tunggu, hanya untuk mendengar segala apreisiasi yang rasanya membuat saya hanya bisa mengucap syukur yang dalam.

“nikmat mana lagi yang kamu dustakan?”

Advertisements

Bertiga

Bertiga

Bertiga

losari

Teman baik itu adalah….

– mengerti saya agak flu, lalu membuatkan saya jahe merah + gula merah dan mengantarkannya di meja saya (my Courier – Pak deden, did it)

– ketika saya hampir sakaw karena telat minum kopi, lalu ada yang bilang ke OB saya untuk segera membuatkan saya kopi 🙂 ( makasih bobby, cinta, udah teriakin budi hehe)

– menawarkan membelikan sarapan untuk saya ketika tau saya datang kepagian (Rinto banget…)

– menyisakan oleh-oleh untuk saya, ketika tau saya full meeting di luar kantor  (all my pantry’s besties, thank you guys 🙂 ) 

– membungkuskan oleh-oleh khusus buat saya, sebagai setoran preman hahaha

 

 

IMG-20130508-04365

Secara tidak sengaja, ketika menyusuri Malioboro, kami lewat di depan Perpustakaan Daerah Jogja. Wah, seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Temaptnya nyaman sekali untuk belajar atau sekedar baca buku. Ruangannya adem, berbau kayu tua, dan koleksi korannya subhanallah. Tempat ini rekomen banget untuk teman-teman yang sedang mencari bahan penelitian terutama yang berasal dari sumber media cetak.

IMG-20130508-04347 IMG-20130508-04352 IMG-20130508-04354

Saya sampai tidak berani membuka, karena sangat rapuhnya koleksi mereka. Cuman bisa memandangi, bundel koran Sinar Harapan bertahun 1954. Dalam ruang lain, ada koleksi khusus untuk literatur bahasa Jepang. Rupanya, ini memang bantuan dari Jepang. Musholla-nya nyaman, kamar mandinya pun bersih.

Kalaupun saya sendirian jalan-jalan, saya pasti akan menetap di perpus ini hingga tutup, sayangnya koleksi anak-anak tidak cukup banyak.

Koleksi terbanyak adalah bundel koran, mulai dari 1954 sampai bulan April 2013. Mostly koran nasional dan Jogja.

Part 4, intinya sih di Jogja:)

Karena kebetulan kami menginap di Wisma MM UGM, sebagai alumni, saya dapat diskon dong 10%, lumejennnng…:)

Malam hari setelah dari taman pintar, kami sempatkan makan di Kopma UGM, masih seperti dulu, makan malam dengan ayam bakar hanya Rp. 7

Burger Monalisa, Jl. Kaliurang samping Bank Mandiri

Burger Monalisa, Jl. Kaliurang samping Bank Mandiri

.500 sajah! Nyaman di kantong. Tak lupa mampir burger Monalisa, saya sendiri lupa bagaimana rasanya dahulu, cuman…. lebih nikmat yang dulu sih pasti hehe. Masih seperti dulu dengan sedikit inflasi, Rp. 12.500,- menurut beberapa mahasiswa yang kami ajak ngobrol itu mahal, wow…. 😀

Pagi hari, kami berkeliling naek sepeda, menyusuri colombo, samirono, kota baru dan akhirnya kali Code. What a perfect morning! Sarapan di Kopma lagi hehe, kali ini dengan menu yang berbeda, cap cay goreng! Beli kaos souvenir UGM untuk oleh-oleh dan kembali ke hotel beberes untuk check out.

CapCay Goreng Kopma, Rp. 8.500 sajah!

CapCay Goreng Kopma, Rp. 8.500 sajah!

IMG-20130509-04408

Keraton menjadi tujuan utama kami pagi itu, dengan trans Jogja kami menyusuri Jogja di sepenggalah matahari naik. Menyambung dengan becak kemudian. Sayangnya, keraton dulu dan kini sangat berbeda jauh, walau lebih bersih, tapi objek yang bisa dikunjungi menjadi lebih sedikit. Ruang tempat melihat lukisan Raden Saleh tak bisa kami lihat, ruang musik, ruang tempat sultan menerima tamu juga kini tertutup. Ah, andai saja masih seperti 20 thn lalu, ketika saya berkunjung bisa sampe full melihat semua isinya.

Hanya sempat merasakan gudeg di wijilan, lalu jalan-jalan keluar masuk gang, wahhhh wonderful. Mostly gang di Jogja bersih dan tetap ramah. Senangnya……

Gang sekitar Yudhonegaran

Gang sekitar Yudhonegaran

Pulang ke Jakarta dengan kereta Progo, ekonomi AC, berangkat dari lempuyangan jam 15.30 dan turun di Jatinegara jam 00.00, dalam perjalanan pulang ini, tempat duduk kami sedikit tidak asyik, karena nomer tempat duduk yang terpisah, bukan depan-depanan, tapi malah belakang-belakangan 😦 .

Overall. backpacking kali ini sungguh menyenangkan!

Tahun depan, Jakarta – Banyuwangi.

Expenses selama di Jogja:

1. Trans Jogja @Rp. 3.500,-

2. Kereta Progo Jogja – Jakarta @Rp. 90.000,-

3. Meals rata-rata Rp. 7500-Rp. 10.000,-

4. Harga ongkos becak, tergantung hati nurani hehe, tetapi sebaiknya tanyakan dulu sebelum naik.

Include hotel dan local transport, perjalanan Backpacking kali ini, ber 4, Jakarta – Kroya – Solo – Jogja – Jakarta sekitar Rp. 1.000.000,-

Murah bukan?

Lets try!

Part 3 kali ini kami akan tuliskan pengalaman di Jogja saja ya. Seperti biaya, Jogja is a magic! Tujuan siang itu hanya 1, yaitu Taman Pintar! Sampai di Stasiun Tugu, jam 12.30, niatnya mau makan dulu, sengaja melewati detil jalan malioboro menuju Taman Pintar. Agar perjalan tak terasa, mau tidak mau, jadi mampir-mampir. Pedagang kaki lima khas malioboro berhasil menghipnotis kantong saya hehe. Selama menyusuri malioboro, kami sempatkan mampir ke perpustakaan daerah Jogja, wow… nyaman sekali untuk studi literatur, koleksi korannya sangat banyak. Saya ceritakan di judul lain  ya. Tapi, teman-teman harus mampir ke sini.

 

Membelah Pasar Bering Hardjo, kami mampir ke pasar Klithikan, sayang, batere bb saya habis, sehingga tak sempat memotret banyak hal istimewa di pasar klithikan ini. Anak-anak belajar banyak di pasar klithikan ini. Mengenal mata uang kuno, alat rumah tangga kuno, hingga belajar nilai ekonomis suatu benda. Ternyata, suatu benda bisa menjadi sangat berharga jika faktor waktu berperan hehe. Ya, artinya ketika supply lebih kecil dari pada demand, harga akan naek, hal yang sama terjadi pada uang kuno. Betul begitu bukan?

 

Jujur, anak-anak hampir give up, dalam perjalanan jalan kaki ini, karena buat meraka ini cukup jauh juga, Tugu- Taman Pintar, mampir di pasar juga hehe. Akhirnya nyerah, naek becak lagi, padahal jaraknya tinggal 200-300 m lagi dari bering harjo ke Taman Pintar. Alhamdulillah, ketika sampai di Taman Pintar, tidak terlalu ramai (esok harinya, masuk pun antri karena hari libur), andai teman-teman tidak memasuki arena, sebetulnya ini gratis, tapi karena kami ingin memasuki arena, kami membayar Rp. 15.000,-

Permainan di luar arena sangat menarik sekali, dari mulai telpon pipa, katrol, drum, kolam air mancur dan banyak lagi.

Telepon Pipa

Telepon Pipa

Drum

Drum

Katrol

Katrol

Dimulai dari gedung yang menyimpan catatan sejarah. Mmmm sebetulnya kesan pertama ini malah menjemukan, karena suguhan gambar-gambar historis dan narasi yang panjang.

IMG-20130508-04371

Part ke-2, menjadi part yang sangat menarik, karena anak-anak menjadi lebih bisa mengekspresikan rasa ingin taunya. Percobaan fisika sederhana, tapi sangat membuka wawasan anak-anak. Silahkan menikmati gambarnya 🙂

Mesin Uap

Mesin Uap

Mars

Mars

Astronot

Astronot

Physical Movement

Physical Movement

IMG-20130508-04391

Bermain Tenis

Bermain Tenis

Menjadi Penyiar

Menjadi Penyiar

 

 

 

 

Part 2 backpacking kami adalah perjalanan dari Kroya menuju Solo. Kereta Logawa ekonomi AC cukup nyaman buat kami. Bersih, dan tepat waktu. Sayangnya banyak komplen penumpang karena mereka tidak dapat memilih tempat duduk. Akhirnya banyak orang sibuk menukar tempat duduk agar bisa duduk satu jalur dengan keluarga. Kereta Logawa adalah kereta dari Purwokerto menuju Jember, berhenti di Kroya tepat pukul 06.30. Kali ini kereta yang kami naiki jauh lebih nyaman dari kereta Serayu karena ber AC :D.

Selama di kereta, anak-anak belajar untuk mengenal geografi 😉 , mengurut stasiun, mengenal bentuk rumah-rumah. Rasanya selangit buat saya dan arrie. Hidup di desa, sederhana dan rumah yang nyaman. Tidak begitu lama perjalanan dari Kroya ke Solo Jebres, beberapa daerah sudah kami kenal, terutama antara Jogja Solo. Tapi, tetap saja, pengalaman ini luar biasa.

Sarapan roti tawar dan susu kental, lumayan mengganjal perut hingga ke Solo yang tidak juga terlalu siang. Solo Jebres, stasiun yang sudah

mbecak di Solo

mbecak di Solo

Solo Jebres - Amazing Building

Solo Jebres – Amazing Building

dikenal Arsya akhirnya kesampaian juga.

 

Pertama yang kami lakukan adalah, mengirim baju kotor ke Jakarta hehe. Alasannya jelas, malas menenteng pakaian kotor berhari-hari. Mampir ke Herona ekspress, Rp. 30.000,- mengurangi beban kami. Sayangnya ketika sampai di Jebres, kami tidak mencari informasi sebelumnya, jadi kami langsung naik becak menuju Solo Balapan untuk membeli tiket Prameks menuju Jogja. Ternyata tak jauh dari Solo Jebres, tersedia Trans Solo :D.

 

Stasiun Jebres sangat indah, saya jadi ingat Otago University di Dunedin, ketika saya masih tinggal di Christchurch NZ 12 thn yang lalu. Tidak berbeda bukan?

Otago Uni, Dunedin NZ

 

Sampai di Balapan, konter Premeks baru dibuka 2 jam sebelum berangkat. Tadinya, kami mau makan dulu di selat solo Mb Vin, tapi ternyata, kereta ekspress Sriwedari telah tersedia, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja saja,  mengejar waktu karena ada sesuatu yang harus kami selesaikan di Jogja.

 

Tidak usah kuatir dengan perjalana Solo – Jogja ini, karena sarana transportasi yang begitu mudah dan jadwal yang teratur:

jadwal kereta Solo - Jogja

jadwal kereta Solo – Jogja

 

Total expenses backpacking part 2 :

1. tiket logawa (kroya-solo) @ RP. 40.5000, total Rp. 162.000,-

2. tiket sriwedari AC (solo Jogja) @Rp. 20.000, total Rp. 80.000,-

3. Becak jebres – balapan @Rp. 15.000,- total Rp. 30.000,-